Antara Aku dan SGI
Hampir dua jam aku terkurung dalam mobil yang
menjemputku dari Bandara Soeta menuju Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa
Bogor. Kulirik arloji yang menempel di tangan, Pukul 20.30 WIB. Masih lamakah
perjalanan ini? Batinku.
Tepat pukul 21.00 WIB aku menghirup udara Jampang. Keluar
dari mobil. Sejenak melihat sekeliling seolah mengawasi. Terpampang “bendulan”
bertuliskan Lembaga Pengembangan Insani (LPI).
“Assalaamu’alaykum, Selamat datang di Bumi
Pengembangan Insani” Ujar salah seorang yang menjemputku, sepertinya dia staf
SGI.
Aku mengekor orang yang barusanku bersuara.
Dikenalkannya aku dengan tempat yang akan menjadi naunganku selama meraup ilmu
di sekolah ini, Paviliun IV.
***
Hari-hariku berlalu dengan kebahagiaan. Tak terasa
sudah tiga bulan aku menjajaki tanah Jampang. Aku duduk di teras asrama
memandang lukisan alam Bogor yang terpampang didepanku. Semilir angin menyapa.
Dia membawaku mereka ulang kejadian yang telah kulewati selama di SGI. Semuanya
terbayang nyata.
***
“Saya ingin mengabdikan ilmu yang kudapat buat
kemajuan Islam. Bukan buat asing, apalagi untuk Yahudi, Tidak!” Motivasi
pertama dari Bambang Suherman yang tak akan kulupa. Aku merinding mendengar apa
yang dikatakan dosen yang sempat bergabung dengan perusahaan asing yang tidak
banyak memberi keuntungan buat khalayak ramai khususnya Islam. Betul itu pak,
banyak orang memandang muslim sebelah mata; tak bisa diandalkan. Sebabnya
simpel saja banyak muslim “menyumbangkan” ilmu buat asing, enggan
dipersembahkan untuk kemajuan islam. “Inilah yang kucari, Yak... Ilmu dan
ragaku buat Islam” gumamku.
“Anda sebenarnya memiliki kemampuan yang lebih dari
apa yang anda bayangkan. Karena ruang gerak yang terbatas, menyebabkan potensi
anda terkungkung. Maka luaskanlah ruang hidup anda untuk berekspresi” Lanjut
pak Bambang dengan materi ke-Dompet Dhuafaan. Semangatku terbakar dan tekad
untuk menjadi yang terbaik terpatri dikalbuku.
Tak ada yang sia-sia kurasa. Pun sewaktu agenda
Militery Super Camp (MSC) berlangsung tak sedikit pula ilmu dan motivasi
penyemangat yang kuraih. Masih terngiang kalimat motivasi yang disampaikan oleh
salah seorang instruktur MSC,
“Biasakanlah dirimu hidup dalam keadaan yang
terbatas sehingga kamu mampu bertahan saat ditempatkan didaerah yang tak luput
dengan keterbatasan. Dan ingat, setiap kali kamu memberikan sesuatu, kamu harus
siap survive”
Ah, tak ada
sesal dihatiku menuntut ilmu di SGI ini. Setiap kata adalah motivasi meski
sesekali merasa tersisih. Kualitas para dosen yang memberi kuliah tak usah diragukan lagi, yang mampu
menyakinkan peserta didiknya unjuk gigi. Aku bangkit dari posisi dudukku. Kuhela napas panjang.
Kurasakan damai disana. Otak beserta simpul sarafnya menguntai kata,
“Dulu saya kesulitan dalam menulis,
tak terlalu kenal dengan keilmuan jurnalisme pendidikan, Fotografi, Seni peran dan Public Speaking, Komunikasi dan
Advokasi, Berpikir kritis dan kreatif, Character Building, ICT, Multiple Intellegence, Quantum Teaching, Manajemen Kelas dan
Media Pembelajaran: Display, Authentic Media, psikologi. Tapi setelah bergabung
dalam kelasnya SGI semuanya kuraih. Terima kasih SGI”
(Ups, kalimat terakhir tersebut tak ada sangkut pautnya dengan
pengobatan di klinik Tumpank lho, hehehe) :D
Leave a Comment